Salah satu hal yang paling aku benci ketika aku jatuh cinta adalah, manjaku yang kumat tak karu-karuan. Ketergantunganku yang sangat tinggi, yang membuatku melibatkan orang yang kucintai dalam hampir semua kegiatanku. Padahal aku bisa melakukannya sendiri. Saat jomblo, aku bisa pulang sendiri jam sepuluh malam dari Plangi ke Bekasi cukup dengan naik Patas. Seingatku juga tak pernah manyun kalau harus menghabiskan weekend sendiri di rumah sementara adik-adikku berterbangan dengan gadisnya masing-masing. Aku juga tak merasa perlu complain kalau ada film bagus yang baru tayang di bioskop sementara teman-teman sulit menyatukan waktu luang bersamaan, karena tak lama pasti segera kudapatkan keping DVD-nya, dan bisa kunikmati sendirian di dalam kamar.
Namun ketika ada seseorang yang berstatus my lover di sisiku, syndrome manjanya ampun-ampun deh. Kalau janjian ketemu teman-teman di plangi, baru jam tujuh malam pun, pulangnya sudah merengek-rengek minta jemput. Weekend tanpa hadirnya bisa membuatku uring-uringan semalaman. Dan nonton film terbaru harus didampingi olehnya, persis anak balita yang baru masuk play group dan diantar orang tuanya.
Kadang bukan antar pulangnya yang penting, bukan pula jalan-jalan weekend yang menjadi tujuan, atau film baru yang begitu ingin kutonton. Kebersamaan dengannya, itu yang selalu aku inginkan. Tapi semua tho memang ada batasnya.
Ah, benci dengan diriku,...
08.10.08 - Don't be too depend on anybody elses. The only one you can deppend on is YOURSELF.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment