Sesuatu yang kutakuti itu akhirnya tiba juga, menghampiri bunga yang tumbuh di hatiku menyambut saat-saat bahagia. Hal itu seperti wabah hama yang sedemikian cepat membuat kelopak indahku mendadak layu dan menjadikan harumnya berbau busuk.
Kepedihan terdalam adalah ketika aku dan segenap aku tak lagi mampu menjadi jalan bahagia bagi orang yang kusayangi. Ketika cintaku tak lagi cukup untuk membuatnya kuat menghadapi keras kehidupan. Saat hadirku tak lagi sanggup membuatnya tersenyum. Dan kenyataan itu menghampiri justru di saat aku tengah merangkai indah impian akan hari bahagia bersamanya. Seketika bangunkanku dari mimpi dan membuatku ragu untuk kembali merangkainya. Menimbulkan lubang tanya cukup besar, jika satu putar revolusi bumi saja mampu membuat jenuh melanda, apalah lagi sepanjang perjalanan usia? Jika pertemuan hanya beberapa hari dalam sepekan telah begitu membosankan, bagaimana harus berbagi kebersamaan dalam setiap langkah hidup?
Kekasih, renungkanlah kembali arti hadirku di hidupmu, sungguhkah kau mau menjadikanku belahan jiwa yang kerap menjejeri setiap detik waktumu dan mencumbui setiap wujud rasamu? Yakinkah kau mampu membunuh tumpukan bosan dan jenuh bersamaku?
Jangan tanyakan aku, sejak awalpun telah kupatrikan diriku untuk senantiasa menjaga hati. Karena aku selalu bersyukur, tlah memilikimu sebagai sandaran jiwaku.
16.10.08 / 01.17 PM – Aku sungguh ingin menangis sampai tertawa saat menulis ini. Sakit di kepalaku tak lagi terindahkan terhapus oleh air yang berdesakkan ingin membobol tanggulku.
No comments:
Post a Comment