Sang Belahan Jiwa

Lilypie - Personal pictureLilypie First Birthday tickers

Since The Day.....

Daisypath Anniversary tickers

Thursday, 23 April 2009

Bingung?

Bukankah seharusnya tak lagi ada kebingungan, lalu mengapa otak seperti terseret buntu, tak berinspirasi
Ah, tahukah bahwa kemudian aku jadi gamang dan serba salah. Tak tahu harus bagaimana.

H-29

Pukul 16.00 sore ini, berarti kurang 2,505,600 detik lagi dari saat sakral yang kunantikan...

Wednesday, 22 April 2009

Balancing

Kalau tidak terlalu merepotkan, bolehkah kupinta sedikit keseimbangan, agar rasaku tak lagi berkelanjutan membentur dinding es, agar aku tak lagi terus menerus kehabisan tenaga untuk meluahkan perhatianku.

Tuesday, 14 April 2009

Satu Keping Terakhir

Perjalanan menyelaraskan rasa kini semakin berliku. Ego dan sensitifitas yang kerap menguat membuat aku dan kamu terus menggerus tenaga sampai lunglai tak lagi menyisakan daya.

- Egoku
Aku ingin menjadi satu-satunya ratu di hatimu, pemilik tahta teristimewa di sana. Tak boleh ada nama lain, meski hanya samar, yang bermukim di celah jiwamu. Tak rela jika kau masih menyimpan serpihan jejak dari langkah-langkah waktumu yang telah terlewati.

-Egomu
Aku adalah laki-laki dengan keterikatan sosial yang tinggi. Bagiku, berada di tengah teman dan sahabat adalah titik penting dalam hidup. Karib perkawananku, dengan adam dan hawa, tak sesiapa boleh menggugatnya.

-Sensitifitasku
Aku terluka saat terdapati kamu lebih memilih memenuhi ingin sahabatmu. Yang terasa adalah kau gadai air mataku untuk mendapat senyum cerianya. Mengapa tak bisa kau rasakan dukaku, atau sengajakah kau abai akan jerit jiwaku itu? Luluh lantak aku. Bathinku membisik, andai situasi dibalik, aku tak akan pergi demi menjaga hatimu.

-Sensitifitasmu
Aku bagaikan tertuduh. Tak merasa aku berbuat salah namun kerap saja curigamu meraja. Kejahatankah untuk memenuhi undangan seorang sahabat? Dosakah kalau aku menyayangi sesosok wanita sebagai karib? Selalu saja kau bebani aku dengan segala manjamu itu. Usahlah lagi temui aku jika masih saja kau pelihara ketidakpercayaanmu padaku.

Lalu harus apa kita kini? Hening sajakah menatap jurang yang semakin meregang jarak kita? Ataukah bersama mencoba merangkai tapak demi tapak jembatan agar kita dapat kembali memintal mimpi dan asa bersama?

Dari titik ini, aku melongok jejak yang pernah kita toreh bersama. Mencermati warna-warni pelangi yang telah kita lukis berdua. Peluh dan air mata, tawa dan bahagia, amarah dan sabar, gejolak dan tenang, semuanya menyatu membentuk nama kita dengan siluet wajahmu dan wajahku dalam kebersamaan. Mungkin kita tidak selalu bahagia, namun aku tahu, bersamamu aku selalu memiliki rumah yang nyaman untuk jiwaku. Kuharap pun demikian denganmu.

Aku tak ingin menyerah, namun kutahu tak bisa aku bersendirian melakukannya. Aku membutuhkanmu, dukunganmu, kekuatanmu, kesabaranmu, dan terutama kasih sayangmu, untuk berjuang, menggenapkan puzzle yang telah kita susun bersama selama sembilan belas purnama di belakang. Tersisa satu keping lagi yang menunggu kita rekatkan satu purnama ke depan, dan aku menanti jawabmu.

14.04.09/12.50 PM - walaupun lelah penuh darah, semoga masih ada secercah asa, untuk kembali mendayung sampan kita bersama.

Monday, 13 April 2009

Alone

I just feel that I'd walk alone, bringing this heavy load on my back

Too tired to debat, too tired to think, even too tired to silent

Wajah Berkumal Duka

Hari berbilang di mana sukmaku masih saja bermain-main di tepi gundah. Pelita telah berubah wujud menjadi api yang liar menjilati nurani membuat aku hangus oleh murka yang mengarangkan asa. Gumpal amarah berbaur kecewa dan gundah begitu kuat memaksa indera penglihatanku untuk memuntahkan air bah, mengguncang segenap tubuhku, namun tak juga cukup untuk mengalihkan sakit dari ulu hati.
Setengah jiwa, bukankah telah kita patrikan untuk serasa seirama? Tak cukupkah jendela jiwaku mengabarkan padamu akan isi hatiku? Tak terasakankah genggam jemariku di malam itu menyampaikan gelisahku? Egoku berlagak seperti suhu yang memberi ujian pada anak didiknya, dan kemudian hancur mendapati hasilnya tak sejalan dengan asanya. Sengaja kukatakan tak mengapa, untuk menggali bagaimana kau empati pada gundahku. Sedianya kukatakan saja aku tak ingin kau pergi, tapi lisanku berujar lain. Dan setelah kudapati kau tetap pergi, segenap luluh dan aku hanya tersisa abu. Mungkin kau tak tahu, gelakmu kala itu haruslah berbarter dengan deraiku semalaman, menghitung detak jam di dinding yang sepertinya kekurangan bahan bakar sehingga begitu lambat berputar.
Dan kini kau kembali, dengan buah tangan berupa senyum penuh suka. Kau ingin beroleh yang sama dariku, senyum sambutmu. Maaf kalau hanya bisa kusuguhkan wajah penuh duka ini. Dengan kelusuhan dan kekumalan yang tak dapat tersmarkan.


13/04/09 - kenapa semua ini terasa semakin melelahkan ya...

Friday, 10 April 2009

Menyepi

Bunyi merimbun di setiap sudut, semua merasa punya hak untuk menyerak suara. Tak peduli tak ada lagi yang mampu menampung reriuhnya. Aku tak ingin ikut menyumbang rerindangan itu. Biarlah menyepi saja. Jika kau ingin tahu apa yang bermukim di balik bilikku, cukuplah lekat menatap sepasang jendela di wajahku. Mereka tak kan berdusta, mereka adalah cermin yang lebih jujur dibanding ribuan kalimat. Andai kau cukup peduli akan geliahku, rasakanlah saja genggam tanganku yang semkin tak luwes menari. Dia adalah pancaran paling absolut dari pedih yang tertahan. Jadi usah bertanya padaku, apakah boleh apakah tidak. Setujukah aku ataukah marah. Cukuplah kau cari jawabnya dalam diamku...


10.04.09 - Sungguh sedang ingin menyepi, larut dalam hening, agar tak perlu lagi ada amarah dan air mata...

Thursday, 2 April 2009

Berselubung Cangkang

Aku melabuhkan penat ke ruang kosong, cangkang ternyaman untuk mengurung sepekat rasa, sejak dulu, kini, dan mungkin seterusnya hingga aku mendapatkan kotak baru tempat raga tanpa ruh milikku berakar. Aku mengadu pada peraduan, menghujaninya dengan air bah yang tertahan sejak siang tadi. Aku memaki pada cermin usang, menikamnya dengan amarah yang seolah baru menemukan tempat luapannya. Aku teriak, sekuat dentuman melodi yang terpasang pada volume tertinggi, untuk kemudian lunglai.
Tahukah dia bahwa aku benci kehilangan mata rantai untuk mengeja jejaknya. Aku candu akan dirinya. Dan ketika tak menemukan pasokan kabar darinya, maka tulangku gigil, kepalaku bergasing, dan bulir keringat menjagung di sekujur.
Sebelum kemudian begitu terbiasa akan hadirnya, aku adalah setitik jiwa yang setia berteman bayang. Luka mengajarkanku untuk bertahan dalam cangkang seorang diri, tak membiarkan sesiapa menyapa. Karena sapa, canda, dan erat, hanya pintu masuk untuk khianat yang bermuara luka. Namun persuaan dengannya di sebuah persimpangan waktu, mengikis takutku. Dia membuatku percaya untuk melubang celah di kulit cangkangku, dan bahkan kemudian utuh membuka jendela hatiku. Membiarkannya merasuki sepiku. Dan akhirnya, membuatku candu.
Mungkinkah kini luka mulai kembali menemukan jalannya untuk menyusup ke jiwaku? Apakah sungguh jendela yang terbuka itu telah menerangi jalan bagi sang luka untuk kembali hinggap? Nyatanya, tanyaku kini hanyalah rengekan yang mengusiknya. Hadirku cumalah menambah beban yang sebelumnya sudah berat membebani punggungnya. Luka sudah mulai meracun, menancapkan merah menghitam pada setiap denyut yang terlaluinya. Mungkin ini pertanda, sudah waktunya kutarik kepalaku ke dalam cangkang dan mengunci rapat jendela, membiarkan waktu terrajut sendiri mengiring langakah ke mana takdir membawa...



02.04.2009 / 03.15 PM - Lagi dan lagi, kala hanya hati berteman sunyi, ditambah sederet huruf bisu di layar maya