Hari berbilang di mana sukmaku masih saja bermain-main di tepi gundah. Pelita telah berubah wujud menjadi api yang liar menjilati nurani membuat aku hangus oleh murka yang mengarangkan asa. Gumpal amarah berbaur kecewa dan gundah begitu kuat memaksa indera penglihatanku untuk memuntahkan air bah, mengguncang segenap tubuhku, namun tak juga cukup untuk mengalihkan sakit dari ulu hati.
Setengah jiwa, bukankah telah kita patrikan untuk serasa seirama? Tak cukupkah jendela jiwaku mengabarkan padamu akan isi hatiku? Tak terasakankah genggam jemariku di malam itu menyampaikan gelisahku? Egoku berlagak seperti suhu yang memberi ujian pada anak didiknya, dan kemudian hancur mendapati hasilnya tak sejalan dengan asanya. Sengaja kukatakan tak mengapa, untuk menggali bagaimana kau empati pada gundahku. Sedianya kukatakan saja aku tak ingin kau pergi, tapi lisanku berujar lain. Dan setelah kudapati kau tetap pergi, segenap luluh dan aku hanya tersisa abu. Mungkin kau tak tahu, gelakmu kala itu haruslah berbarter dengan deraiku semalaman, menghitung detak jam di dinding yang sepertinya kekurangan bahan bakar sehingga begitu lambat berputar.
Dan kini kau kembali, dengan buah tangan berupa senyum penuh suka. Kau ingin beroleh yang sama dariku, senyum sambutmu. Maaf kalau hanya bisa kusuguhkan wajah penuh duka ini. Dengan kelusuhan dan kekumalan yang tak dapat tersmarkan.
13/04/09 - kenapa semua ini terasa semakin melelahkan ya...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment