Sang Belahan Jiwa

Lilypie - Personal pictureLilypie First Birthday tickers

Since The Day.....

Daisypath Anniversary tickers

Tuesday, 14 April 2009

Satu Keping Terakhir

Perjalanan menyelaraskan rasa kini semakin berliku. Ego dan sensitifitas yang kerap menguat membuat aku dan kamu terus menggerus tenaga sampai lunglai tak lagi menyisakan daya.

- Egoku
Aku ingin menjadi satu-satunya ratu di hatimu, pemilik tahta teristimewa di sana. Tak boleh ada nama lain, meski hanya samar, yang bermukim di celah jiwamu. Tak rela jika kau masih menyimpan serpihan jejak dari langkah-langkah waktumu yang telah terlewati.

-Egomu
Aku adalah laki-laki dengan keterikatan sosial yang tinggi. Bagiku, berada di tengah teman dan sahabat adalah titik penting dalam hidup. Karib perkawananku, dengan adam dan hawa, tak sesiapa boleh menggugatnya.

-Sensitifitasku
Aku terluka saat terdapati kamu lebih memilih memenuhi ingin sahabatmu. Yang terasa adalah kau gadai air mataku untuk mendapat senyum cerianya. Mengapa tak bisa kau rasakan dukaku, atau sengajakah kau abai akan jerit jiwaku itu? Luluh lantak aku. Bathinku membisik, andai situasi dibalik, aku tak akan pergi demi menjaga hatimu.

-Sensitifitasmu
Aku bagaikan tertuduh. Tak merasa aku berbuat salah namun kerap saja curigamu meraja. Kejahatankah untuk memenuhi undangan seorang sahabat? Dosakah kalau aku menyayangi sesosok wanita sebagai karib? Selalu saja kau bebani aku dengan segala manjamu itu. Usahlah lagi temui aku jika masih saja kau pelihara ketidakpercayaanmu padaku.

Lalu harus apa kita kini? Hening sajakah menatap jurang yang semakin meregang jarak kita? Ataukah bersama mencoba merangkai tapak demi tapak jembatan agar kita dapat kembali memintal mimpi dan asa bersama?

Dari titik ini, aku melongok jejak yang pernah kita toreh bersama. Mencermati warna-warni pelangi yang telah kita lukis berdua. Peluh dan air mata, tawa dan bahagia, amarah dan sabar, gejolak dan tenang, semuanya menyatu membentuk nama kita dengan siluet wajahmu dan wajahku dalam kebersamaan. Mungkin kita tidak selalu bahagia, namun aku tahu, bersamamu aku selalu memiliki rumah yang nyaman untuk jiwaku. Kuharap pun demikian denganmu.

Aku tak ingin menyerah, namun kutahu tak bisa aku bersendirian melakukannya. Aku membutuhkanmu, dukunganmu, kekuatanmu, kesabaranmu, dan terutama kasih sayangmu, untuk berjuang, menggenapkan puzzle yang telah kita susun bersama selama sembilan belas purnama di belakang. Tersisa satu keping lagi yang menunggu kita rekatkan satu purnama ke depan, dan aku menanti jawabmu.

14.04.09/12.50 PM - walaupun lelah penuh darah, semoga masih ada secercah asa, untuk kembali mendayung sampan kita bersama.

No comments: